Langit senja
Senja kala itu nampak indah dengan warna jingga meronanya. Bunga nampak mekar menampakkan keindahannya pada dunia. Langit pun tersenyum dengan awan tipis menghiasinya. Rindu sekali masa-masa indah seperti itu, dulu. Dulu senja tampak indah kala bersamamu, indah wajahmu kala senyum mengukir wajahmu, merdu suaramu kala bercanda bersamaku. Namun itu dulu, ya dulu, berbeda dengan sekarang ketika langit senja tak lagi indah, ketika bunga tak lagi mekar, dan langit tak lagi menampakkan senyumnya lagi padaku.
Senja mulai nampak tak indah dikala waktu itu jarak memisahkan kita Surabaya-Bintaro. Ya, 487 miles apart. Dikala senja yang waktu itu tengah kita nikmati berdua, jarak harus memaksa kita untuk menatap langit senja yang sama dengan jarak yang tak lagi nol. Ya, senja, waktu yang tak cukup lama dalam sehari, mungkin itu lah yang menggambarkan keriangan kita juga, sebentar, ya hanya sebentar. Beruntunglah mereka yang masih dapat menikmati langit senja bersama, beruntunglah mereka yang jatuh cinta pada langit senja, ya, beruntung, karena mereka mungkn masih dapat menikmati indahnya langit senja bersama pasangan, tapi tidak denganku.
Bunga tak lagi mekar sebagaimana mestinya, layu ? mungkin tidak, lalu ? karena aku, kamu ? ya, aku. Apa yang kau lakukan terhadapnya ? Kala rasa cinta dan sayang itu mekar, sepantasnya nikmati keindahannya, jaga harumnya, tunggu saat ia mekar kembali pada waktunya. Namun apa yang kamu lakukan ? Aku justru meninggalkan indahnya bunga yang mekar kala itu, ya, kupu-kupu yang menggodaku untuk pergi kala itu. Ku kira kupu-kupu itu akan hinggap padamu ikut menikmati indahnya elok bungamu, mencium harumnya wangimu, menari riang gembira menikmati indahnya mekarmu. Aku hanya ingin berteman baik dengannya, ya, sebagai sesama penikmat indahnya mekarmu waktu itu. Namun kamu cemburu melihatku bersama sang kupu-kupu yang tengah bercanda bersama menikmati indahmu. Lantas sang kupu-kupu pun memilih pergi karena engkau tak lagi indah dengan mekarmu dan memilih layu menutupi keindahanmu. Lalu apa yang aku lakukan ? Aku malah asik mengejar kupu-kupu itu, ya, bodoh, harusnya aku menunggumu mekar kembali pada waktu itu.
Langit tak lagi tersenyum melihatku, ia murung, marah, sedih padaku. Dulu kita saling berpesan melalui langit dimana tempat kita berlindung, ya dibawah langit, langit yang sama. Dulu sering ku kirim pesan rinduku lewat awan yang menghiasi langit kala itu. Kau pun sering mengirimkan hangat senyummu padaku lewat awan pula yang tersenyum padaku. Namun kini kucari awan pembawa pesan itu, ia tak pernah nampak lagi padaku, apakah ia telah hilang ? apa dia malu ? atau tak lagi ada pesan rindu dan hangatnya senyummu yang kau kirimkan kepadaku lagi ?. Kosong, ya kosong, kosong langit saat kutatap indahnya. Tak ada lagi awan yang tersenyum menyapaku kala aku menatap indahnya kini.Mungkin kau telah mengutus awan pembawa pesan yang biasa membawakan senyummu kepadaku kepada punjannga lain, ya dia yang lebih bisa mengertimu, dia yang lebih dekat denganmu, dia yang tak mengejar kupu-kupu dan tak berusaha mencari sahabat selain indahnya mekarmu.
Kini aku masih dengan perasaan yang sama padamu, kuingin menikmati indahnya jingga senja bersamamu, menikmati mekarmu, dan berkirim pesan rindu melalui langit. Tak sedikitpun ras ini hilang hanya karena aku bersahat dengan kupu-kupu itu. Namun kau salah menerjemahkannya, kau memilih tak lagi menikmati senja bersamaku, tak menampakkan mekarmu, dan tak berkirim pesan di langit padaku. Ya, penyesalan selalu datang terakhir, kini kau telah pergi dengan kawan senja barumu, yang akan kau berikan mekarmu padanya, dan bertukar rindu lewat langit yang hanya berjarak 0 miles di kampus.
Semoga cinta ini akan bersemi lagi saat semua telah usai, saat badai telah pergi, dan pujangga barumu telah pergi. Aku yang menyesali aku sendiri. Bintaro 22 mei 2018. 5.05 AM.
Ketika kau usaikan senja kini. Kuharap engkau cukupkan hati ini. Hingga tak ada ragu hadapi malam-malam sepiku nanti. (dhani)
Komentar
Posting Komentar