Postingan

Tempe Orek dan Kulit Ayam

Siang ini kota pahlawan terasa sangat terik. Ya, mungkin sudah menjadi hal yang biasa di kota ini. Bergulat tak hanya dengan asap kendaraan dan kemacetan, tapi terik matahari ini juga cukup menghela kesabaran. Ya, hal itu akan semakin terasa apabila berada di daerah pabrikan. Pemandangan disepanjang jalan hanyalah gedung kotak -kotak dengan cerobong asap di atasnya. Pohon pohon hanya nampak 15 meter sekali. Diantara jarak antar pohon itu terdapat warung kecil yang setia menemani para pekerja pabrik kala jam makan siang datang. Warung kecil itu bisa memuaskan ratusan bahkan mungkin ribuan pekerja tiap harinya. Mungkin tiap 5 menit sekali para pekerja itu berlalu lalang melewati pintu kecil warung itu.  Seperti biasa, siang ini warung ramai sekali. Datanglah seorang wanita cantik yang sedang magang di pabrik sebelah. Saking cantiknya ia menyita perhatian seluruh isi warung, termasuk tempe orek dan kulit ayam. Semua pandangan tertuju pada wanita berparas bidadari cantik...

Aktivis vs Romantis (Bagian 1)

Aktivis tuh gaboleh Romantis, Aktivis tuh gaboleh punya pacar, Aktivis tuh gamungkin ada waktu buat pacaran. Yaa, kali ini aku bakalan sharing tentang perdebatan Mahasiswa, yang mungkin kalian pernah rasakan di bangku 'per-kuli-ahan'. Sebenernya cerita ini juga pengalaman pribadiku sendiri dan beberapa pengalaman kawan curhatku. Mungkin banyak diantara kita yang udah berumur 17/18/19 tahun udah merasakan 'hangat' dan 'ganasnya' bangku perkuliahan. Mungkin waktu SD kalian ingin cepet-cepet SMP, terus pengen cepet-cepet SMA, lalu pengen cepet-cepet kuliah. Sayangnya bangku kuliah itu 'Tidak semudah itu Ferguso !'. Banyak hal yang berubah ketika kita memasuki bangku 'per-kuli-ahan' ini. Gak segampang dan se-asik yang dibayangin pas waktu SMA. Banyak hal-hal yang gak terduga di fase itu, kebohongan jadi hal yang wajar, memanfaatkan selalu jadi andalan, memaafkan hanya untaian kata, bahkan romansa cinta sudah tak lagi sama. Iya, disi...

Sajak : Pertemuan dengan sang Bidadari (Bagian 2)

DM pun terus berlanjut setiap hari, Bak Matahari dan Bulan yang slalu berotasi, Seakan ini tak akan ada henti, Topik apapun akan kucari, Demi bersua dengan sang Bidadari, Bahas ini itu kesana kemari, Dua minggu lebih telah kulalui, Kurasa tak cukup kita bersua via DM ini, Lalu kucoba iseng tuk beranikan diri, Hehehe, gurauku mengawali, Boleh minta id line tuan putri? Tanyaku gercep tanpa berpikir lagi, Boleh, add aja idnya ini, Ingin kubanting rasanya gawai ini, Saking  senangnya hati pujangga ini, Ku buka Line  dan langsung ku cari, Mata tertuju pada tombol bertuliskan 'cari', Tak akan kulupa hari dan id Line ini, Hai, sapaan klasik kuucap lagi, Sok sekali pakai basa-basi, Mungkin kamu berpikir, kesal, dan jijik, "Apasiiiiiiiiiii"

Sajak : Pertemuan dengan sang Bidadari (Bagian 1)

Dari snapgram kita bersua, Mencela, minta follback  ku berkata, Kupikir, ku ini tak tau malu juga, Entah kau memang ingin atau kasian saja, Notif pun muncul tak lama, Aku terkejut dan lagi lagi mencela, Akupun tak tau mengapa, Tiba tiba saja tumbuh rasa, Padahal aku juga tak tau kamu siapa, Lalu, kuberanikan diri saja tuk menyapa, Beraninya si dekil menyapa bidadari surga, Macam tak tau diri ia siapa, Dan benar saja, balasan darimu kutunggu sangat lama, Sempat terpikir, ah biarlah saja, Memangnya aku ini siapa, Sesak nafas, saat dm ku terbalas juga, Bak gempa tengah kurasa, Ingin sekali rasanya cepat cepat kubuka, Hai, kata yang kuketik pertama Teman alfin ya ? Yang kedua, ............, yang ini kata ketiga

Sajak : Penulis rindu

Pena, anggap saja itu sebuah nama Kertas, anggap saja itu sebuah media Bidadari, jangan cuma anggap, itu memang dia Kertas, tak biasanya, ia kosong, tanpa goresan tinta, Namun, sudah lebih dari sewindu ia dibiarkan saja, Lantas apa yang pena lakukan ? Apa ia lupa ? Tidak, pena tidak lupa, Ia tengah duduk termenung, sepertinya sedang merangkai kata, Namun, apa yang terjadi padanya ? Kemarin kulihat ia menggoreskan senyum dibibirnya, Senyum yang sudah lama tak ia goreskan sebelumnya, Aku bingung, siapa yang menjadi sebabnya, Ah, tunggu sebentar, apakah ini tinta ? Oh benar, itu tinta, darimana asalnya ? Apakah ini milik pena ? Heii, lihatlah, lihatlah sang pena, Ia mulai tersenyum gembira, Apa yang terjadi padanya ? Apa yang ia lakukan disana ? Oh, lihat ! lihat ! Ia melukis anda ! Anda ? Anda siapa ? Bahkan anda tidak percaya ? Itu senyuman wanita indah yang ia damba, Iyaaa, benar, itu senyum anda Meilynda :)

Sajak : Sosok Hantu

Malam ini hembusan angin malam berlalu, Dinginnya malam terasa menusuk tulangku, Semakin lengkap dengan sosok yg menghantui pikiranku, Aku juga tak tahu, Apa yang diinginkan sosok itu ? Atau apa yg telah aku lakukan pada sosok itu ? Yg terlintas hanyalah dosa dibenakku, Merasa aneh dengan sosok itu, Apa yg telah aku lakukan, dasar dungu ?!  Aku harap sosok itu adalah kamu, Seseorang yg merubah hari-hariku, Mungkin karna keluguan, kelucuan, atau kependek-an mu ? Aku hanya berani mengungkap ini dalam kalbu, Tak mau rasanya terlalu pasang badan begitu, Untuk rasa yang mungkin berlebihan bagimu, Menanti penempatan semakin berat bagiku, Ya, berat bagiku, juga mungkin bagimu, Ekspresi aneh kerap tergambar dari rautmu, Sempat terbayang bagaimana waktu itu, Dikala aku membuka dan membaca penuh seru, Yang kuingin hanya kabar baik bagimu, dan bagiku, Aku ingin rasa ini tetap begitu, Tetap pada tempatnya di dalam kalbu, Karna kuingin sosokmu selalu menghanttui ...

Sajak : Skak Mat

Skak Mat, Ya kata dalam percaturan, Yang mungkin menggambarkan keadaan Skak Mat, Kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Rasa sedih, pilu dan kesepian Skak Mat, Kesalahan yang timbul akibat kesalahan Ya, seandainya kamu tau tentang kebenaran Skak Mat, Kebenaran yang mungkin memberi ku kesempatan Kesempatan untuk menjelaskan Skak Mat, Mungkin tak hanya menjelaskan Tapi juga menyelamatkan Skak Mat, Menyelamatkan seutas hubungan Yang telah lama aku dambakan dan janjikan Skak Mat, Tapi semua berita dan kicauan Seakan memberikan kepastian dan kebenaran Skak Mat, Aku harap waktuku datang kembali sekali ini saja dari ribuan Untuk bisa memperbaiki dan memperjuangkan Skak Mat, Memperjuangkan janji dalam diri ini untuk menjadikan Menjadikan dirimu sebagai akhiran Skak Mat, Namun mungkin harapan itu hanya akan jadi angan Angan yang selalu kudoakan Skak Mat, Doa yang selalu memberiku sebuah pengharapan Bahwa Sanag Semesta akan memberi kesempatan Ska...