Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Tempe Orek dan Kulit Ayam

Siang ini kota pahlawan terasa sangat terik. Ya, mungkin sudah menjadi hal yang biasa di kota ini. Bergulat tak hanya dengan asap kendaraan dan kemacetan, tapi terik matahari ini juga cukup menghela kesabaran. Ya, hal itu akan semakin terasa apabila berada di daerah pabrikan. Pemandangan disepanjang jalan hanyalah gedung kotak -kotak dengan cerobong asap di atasnya. Pohon pohon hanya nampak 15 meter sekali. Diantara jarak antar pohon itu terdapat warung kecil yang setia menemani para pekerja pabrik kala jam makan siang datang. Warung kecil itu bisa memuaskan ratusan bahkan mungkin ribuan pekerja tiap harinya. Mungkin tiap 5 menit sekali para pekerja itu berlalu lalang melewati pintu kecil warung itu.  Seperti biasa, siang ini warung ramai sekali. Datanglah seorang wanita cantik yang sedang magang di pabrik sebelah. Saking cantiknya ia menyita perhatian seluruh isi warung, termasuk tempe orek dan kulit ayam. Semua pandangan tertuju pada wanita berparas bidadari cantik...

Aktivis vs Romantis (Bagian 1)

Aktivis tuh gaboleh Romantis, Aktivis tuh gaboleh punya pacar, Aktivis tuh gamungkin ada waktu buat pacaran. Yaa, kali ini aku bakalan sharing tentang perdebatan Mahasiswa, yang mungkin kalian pernah rasakan di bangku 'per-kuli-ahan'. Sebenernya cerita ini juga pengalaman pribadiku sendiri dan beberapa pengalaman kawan curhatku. Mungkin banyak diantara kita yang udah berumur 17/18/19 tahun udah merasakan 'hangat' dan 'ganasnya' bangku perkuliahan. Mungkin waktu SD kalian ingin cepet-cepet SMP, terus pengen cepet-cepet SMA, lalu pengen cepet-cepet kuliah. Sayangnya bangku kuliah itu 'Tidak semudah itu Ferguso !'. Banyak hal yang berubah ketika kita memasuki bangku 'per-kuli-ahan' ini. Gak segampang dan se-asik yang dibayangin pas waktu SMA. Banyak hal-hal yang gak terduga di fase itu, kebohongan jadi hal yang wajar, memanfaatkan selalu jadi andalan, memaafkan hanya untaian kata, bahkan romansa cinta sudah tak lagi sama. Iya, disi...

Sajak : Pertemuan dengan sang Bidadari (Bagian 2)

DM pun terus berlanjut setiap hari, Bak Matahari dan Bulan yang slalu berotasi, Seakan ini tak akan ada henti, Topik apapun akan kucari, Demi bersua dengan sang Bidadari, Bahas ini itu kesana kemari, Dua minggu lebih telah kulalui, Kurasa tak cukup kita bersua via DM ini, Lalu kucoba iseng tuk beranikan diri, Hehehe, gurauku mengawali, Boleh minta id line tuan putri? Tanyaku gercep tanpa berpikir lagi, Boleh, add aja idnya ini, Ingin kubanting rasanya gawai ini, Saking  senangnya hati pujangga ini, Ku buka Line  dan langsung ku cari, Mata tertuju pada tombol bertuliskan 'cari', Tak akan kulupa hari dan id Line ini, Hai, sapaan klasik kuucap lagi, Sok sekali pakai basa-basi, Mungkin kamu berpikir, kesal, dan jijik, "Apasiiiiiiiiiii"

Sajak : Pertemuan dengan sang Bidadari (Bagian 1)

Dari snapgram kita bersua, Mencela, minta follback  ku berkata, Kupikir, ku ini tak tau malu juga, Entah kau memang ingin atau kasian saja, Notif pun muncul tak lama, Aku terkejut dan lagi lagi mencela, Akupun tak tau mengapa, Tiba tiba saja tumbuh rasa, Padahal aku juga tak tau kamu siapa, Lalu, kuberanikan diri saja tuk menyapa, Beraninya si dekil menyapa bidadari surga, Macam tak tau diri ia siapa, Dan benar saja, balasan darimu kutunggu sangat lama, Sempat terpikir, ah biarlah saja, Memangnya aku ini siapa, Sesak nafas, saat dm ku terbalas juga, Bak gempa tengah kurasa, Ingin sekali rasanya cepat cepat kubuka, Hai, kata yang kuketik pertama Teman alfin ya ? Yang kedua, ............, yang ini kata ketiga

Sajak : Penulis rindu

Pena, anggap saja itu sebuah nama Kertas, anggap saja itu sebuah media Bidadari, jangan cuma anggap, itu memang dia Kertas, tak biasanya, ia kosong, tanpa goresan tinta, Namun, sudah lebih dari sewindu ia dibiarkan saja, Lantas apa yang pena lakukan ? Apa ia lupa ? Tidak, pena tidak lupa, Ia tengah duduk termenung, sepertinya sedang merangkai kata, Namun, apa yang terjadi padanya ? Kemarin kulihat ia menggoreskan senyum dibibirnya, Senyum yang sudah lama tak ia goreskan sebelumnya, Aku bingung, siapa yang menjadi sebabnya, Ah, tunggu sebentar, apakah ini tinta ? Oh benar, itu tinta, darimana asalnya ? Apakah ini milik pena ? Heii, lihatlah, lihatlah sang pena, Ia mulai tersenyum gembira, Apa yang terjadi padanya ? Apa yang ia lakukan disana ? Oh, lihat ! lihat ! Ia melukis anda ! Anda ? Anda siapa ? Bahkan anda tidak percaya ? Itu senyuman wanita indah yang ia damba, Iyaaa, benar, itu senyum anda Meilynda :)

Sajak : Sosok Hantu

Malam ini hembusan angin malam berlalu, Dinginnya malam terasa menusuk tulangku, Semakin lengkap dengan sosok yg menghantui pikiranku, Aku juga tak tahu, Apa yang diinginkan sosok itu ? Atau apa yg telah aku lakukan pada sosok itu ? Yg terlintas hanyalah dosa dibenakku, Merasa aneh dengan sosok itu, Apa yg telah aku lakukan, dasar dungu ?!  Aku harap sosok itu adalah kamu, Seseorang yg merubah hari-hariku, Mungkin karna keluguan, kelucuan, atau kependek-an mu ? Aku hanya berani mengungkap ini dalam kalbu, Tak mau rasanya terlalu pasang badan begitu, Untuk rasa yang mungkin berlebihan bagimu, Menanti penempatan semakin berat bagiku, Ya, berat bagiku, juga mungkin bagimu, Ekspresi aneh kerap tergambar dari rautmu, Sempat terbayang bagaimana waktu itu, Dikala aku membuka dan membaca penuh seru, Yang kuingin hanya kabar baik bagimu, dan bagiku, Aku ingin rasa ini tetap begitu, Tetap pada tempatnya di dalam kalbu, Karna kuingin sosokmu selalu menghanttui ...

Sajak : Skak Mat

Skak Mat, Ya kata dalam percaturan, Yang mungkin menggambarkan keadaan Skak Mat, Kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Rasa sedih, pilu dan kesepian Skak Mat, Kesalahan yang timbul akibat kesalahan Ya, seandainya kamu tau tentang kebenaran Skak Mat, Kebenaran yang mungkin memberi ku kesempatan Kesempatan untuk menjelaskan Skak Mat, Mungkin tak hanya menjelaskan Tapi juga menyelamatkan Skak Mat, Menyelamatkan seutas hubungan Yang telah lama aku dambakan dan janjikan Skak Mat, Tapi semua berita dan kicauan Seakan memberikan kepastian dan kebenaran Skak Mat, Aku harap waktuku datang kembali sekali ini saja dari ribuan Untuk bisa memperbaiki dan memperjuangkan Skak Mat, Memperjuangkan janji dalam diri ini untuk menjadikan Menjadikan dirimu sebagai akhiran Skak Mat, Namun mungkin harapan itu hanya akan jadi angan Angan yang selalu kudoakan Skak Mat, Doa yang selalu memberiku sebuah pengharapan Bahwa Sanag Semesta akan memberi kesempatan Ska...

Sajak : Oh Gusti,

Oh, Gusti, Udara terasa sejuk pagi ini, Indah kurasa, yang kini sendiri, Oh, Gusti, Ada satu masalah dalam hati, Sesuatu yang tak mungkin ku lupa, lagi, Oh, Gusti, Tak tau mengapa hati bisa begini, Selalu merasa ia milikku, milikku sendiri, Oh, Gusti, Namun tak mungkin lagi hati ini, Tak mungkin bisa memilikinya, lagi, Oh, Gusti, Lelaki yang kini ia miliki, Tolong jaha dirinya, yang tak lagi sendiri Oh, Gusti, Jangan sekali-kali kau sakiti, Hati malaikat kecilku ini, Oh, Gusti Seandainya kau tak mampu lagi, Kembalikan hati itu untuk ku muliki, lagi Oh, Gusti, Sungguh rasa ini hanya dia yang milikki, Tak ada ragu dalam hati, Oh, Gusti Tak mungkinkupungkiri rasa ini, Mungkin itu yang membuatku memilih untuk sendiri, Oh, Gusti, Jangan kecewakan hati lelaki bejat ini, Jangan sampai dia kau sakiti, Oh, Gusti, Selalu sayangi, Dan jaga dia demi hati pria brengsek ini, Oh, Gusti, Kini kubiarkan hatinya pergi, Namun ketika hati itu kembali, jangan ...

Sajak : Bahagia ya,

Senja ini terasa baru bagiku, Melihat semua tak lagi biru, Dikala waktu itu selalu ada dirimu, Langit terasa baru bagiku, Tak ada lagi awan darimu, Tak ada lagi pesan untukku, Bunga yang mekar dulu, Kini tak lagi ada bagiku, Tak ada lagi kupu-kupu, Tak ada yang dapat dinikmati disenjaku, Tak ada lagi tawa riang mu, Tak ada lagi sesi receh ku, Mungkin ini adalah hal baru, Atau mugkin buah kebodohanku ? Atau mungkin ini karena egoismu ? Ahh, sudahlah aku tak mau tau, Yang ku tau aku hanya menyimpan rasa ku, Rasa yang memang hanya kuberikan padamu, Tak ada rasa bagi kupu-kupu, Tak ada rasa bagi sang penikmat mekarmu, Rasa itu hanya untukmu, bunga mekarku, dulu, Tak tau, bodohkah aku ? Apabila tetap menyimpan rasa padamu, Atau aku harus pergi darimu ? Yang tentu, bahagialah bersama lebah barumu, Semoga semua baik-baik saja bagimu, Karena aku tak tau malu, jika menahan ras ini padamu,

Sajak : Dewasakah aku ?

Menjadi dewasa itu pilihan, Terlalu dewasa apakah itu berlebihan ? Apakah menjadi dewasa harus siap kehilangan ? Disaat semua kau pikir berjalan lancar, Itu hanya membuat pikiranmu terpemcar, Memahami sesuatu yang kau sebut pacar, Apakah egois adalah sebuah kedewasaan ? Apakah dewasa harus rela berkorban perasaan ? Atau hanya kau yang berlebihan ? Dewasa tak bisa dipaksakan, Tak bisa pula kau himdarkan, Ya, jadi dewasa adalah pilihan, Harus kehilangan sudah biasa kurasa, tak hanya teman namu juga keluarga, seakan semua terjadi dan kubiarkan begitu saja, Menjadi dewasa tak membuatku terlalu bahagia, Ya, karena itulah aku kehilangan dia, dan dia, Tapi aku tak kunjung bosan menemukan apa itu dewasa, Untuk kamu disana maafkan aku, Semua hanya karena cara berpikirku, Yang tak bisa selalu sejalan dengan pikirmu, Hanya maaf yang kuucap, Ku merindukan sebuah cakap, Saat kita saling berucap. - CAO, 25 Maret 2018 seorang yang berpikir dia sudah cukup dewasa, nam...

Langit senja

Senja kala itu nampak indah dengan warna jingga meronanya. Bunga nampak mekar menampakkan keindahannya pada dunia. Langit pun tersenyum dengan awan tipis menghiasinya. Rindu sekali masa-masa indah seperti itu, dulu. Dulu senja tampak indah kala bersamamu, indah wajahmu kala senyum mengukir wajahmu, merdu suaramu kala bercanda bersamaku. Namun itu dulu, ya dulu, berbeda dengan sekarang ketika langit senja tak lagi indah, ketika bunga tak lagi mekar, dan langit tak lagi menampakkan senyumnya lagi padaku. Senja mulai nampak tak indah dikala waktu itu jarak memisahkan kita Surabaya-Bintaro. Ya, 487 miles apart. Dikala senja yang waktu itu tengah kita nikmati berdua, jarak harus memaksa kita untuk menatap langit senja yang sama dengan jarak yang tak lagi nol . Ya, senja, waktu yang tak cukup lama dalam sehari, mungkin itu lah yang menggambarkan keriangan kita juga, sebentar, ya hanya sebentar. Beruntunglah mereka yang masih dapat menikmati langit senja bersama, beruntunglah mereka yan...